AKERNILUD
Alkisah, pada jaman dahulu kala di sebuah negeri yang sangat kaya raya, seorang raja yang bernama Ilosius Doyonuya, dibantu oleh Perdana Menteri yang bernama Jakal Kupus, raja tersebut yang memerintah dengan bijaksana serta arif dan adil, semua permasalahan mulai dari ekonomi sampai ke masalah politik dan bahkan masalah remeh seperti maling ayam diselesaikan dengan adil dan bijaksana, namun sang Perdana Menteri adalah bekas pedagang ikan asin yang kebetulan terpilih menjadi Perdana Menteri, jadi pemikiran sang PM adalah bagaimana memakmurkan daripada rakyat.
Pada suatu hari, tertiup kabar angin bahwa sebuah toko yang biasa menjual daun lontar dan perlengkapan memutuskan untuk menjual daun lontar yang berisi kumpulan dan gambar-gambar wanita cantik yang ada di negeri itu, sontak semua telinga dan mata yang ada di negeri itu mencoba mencari tahu, seperti apakah bentuk kemasan dan isi kumpulan daun lontar itu, karena toko yang akan menjual barang tersebut mengambil lisensi dari negeri di seberang timur jauh, dan kumpulan daun lontar yang sudah dijual di negeri seberang lautan itu sangatlah terkenal namanya karena memuat gambar wanita tak berbusana dan kualitas daun lontar maupun isinya sangat luar biasa, nama kumpulan daun lontar itu “Akernilud”, memang namanya sangat terdengar aneh dan tidak wajar, tetapi nama tersebut bisa mendatangkan banyak uang, itu sangat terbukti karena setelah ada kabar angin bahwa ada satu toko yang akan menjual kumpulan daun lontar tersebut, banyak orang-orang di negeri itu yang ingin menangguk keuntungan dari dijualnya kumpulan daun lontar itu langsung berganti pekerjaan, yang dulunya pemulung sekarang jadi calo wanita cantik yang pengen jadi cover kumpulan daun lontar tersebut, yang dulunya prajurit langsung berganti pekerjaan sebagai distributor daun lontar karena mereka yakin bahwa bisnis daun lontar akan sangat menguntungkan dengan dijualnya kumpulan daun lontar itu, disamping itu semua ternyata ada beberapa kelompok yang tidak ingin kumpulan daun lontar dijual dengan alasan bahwa kumpulan lontar tersebut tidak sesuai dengan budaya kita yaitu budaya barat, dan juga karena barang tersebut tidak sesuai dengan nilai moral kepercayaan yang mereka anut yaitu kepercayaan “Madhep Wetan”,sebuah aliran yang mereka dapatkan dari sebuah pulau yang berada jauh sekali dari negeri yang sedang saya ceritakan, aliran ini terkenal sangat ketat dalam pelaksanaan hukum-hukum kepercayaannya, dan juga sangat membatasi kebebasan berpakaian, karena penganut aliran mereka diwajibkan untuk menutupi kaki dan tangannya pada saat meninggalkan rumah, sedangkan bagian lain boleh bebas, walaupun begitu penganut aliran ini jumlahnya sangat banyak dan rata-rata terdiri dari pejabat-pejabat kerajaan bahkan massa utama mereka adalah para begundal-begundal dan para pengangguran yang tidak mau berusaha, mereka mengikuti aliran ini karena ingin makan gratis dan bisa menunjukkan kekuatan mereka, pernah suatu waktu, para penganut aliran ini, dipimpin oleh Sesepuh kelompoknya membuat onar di sebuah tempat bersantai yang terletak di sebelah alun-alun kota, alasan mereka tempat itu disalahgunakan menjadi tempat madat dan tempat melampiaskan nafsu syahwat secara sembunyi-sembunyi, mereka menghancurkan semua barang yang ada di tempat itu dan menyandera para wanita yang kebetulan berada di tempat itu, mereka membawa semua uang yang ada dengan alasan ingin dibakar karena uang tersebut hasil dari kejahatan, tetapi menurut seorang saksi mata yang membuntuti mereka sampai ke tempat berkumpul kelompok itu, para anggota kelompok tersebut memperkosa semua wanita dan memasukkan uang hasil jarahan tersebut ke dalam brankas kantor mereka, dan sebagian uang tersebut mereka belikan arak dan tuak, dan juga candu, mereka berpesta pora semalam suntuk, dan begitu selesai mereka meninggalkan wanita-wanita itu di tengah hutan, namun karena keberadaan mereka di back up oleh pejabat kerajaan maka kasus ini di peties kan.
Pada suatu waktu, kelompok “Madhep Wetan” ini mengadakan rapat akbar di tengah alun-alun, berhubung sebagian pejabat kerajaan berasal dari kelompok ini, mereka bebas saja menggunakan alun-alun sebagai tempat berkumpul, padahal menurut titah Raja, alun-alun tersebut hanya boleh digunakan pada saat-saat penting saja,dan harus mendapat ijin dari sang raja, berhubung sang raja sedang berkunjung ke negeri seberang, dan dia tidak dapat mengetahui apa yang terjadi di negerinya para pejabat yang menganut aliran itu dapat seenaknya memberikan ijin pakai alun-alun kepada kelompok tersebut, oke kembali lagi pada suasana di alun-alun, ternyata tidak banyak yang mengikuti rapat akbar ini, para pejabat yang menganut aliran ini pun tidak tampak batang hidungnya, yang hadir hanya penganut aliran yang dari kalangan anak-anak putus sekolah, pengamen, preman, begundal, pengangguran, penjahat. Pemimpin kelompok ini mulai berbicara tentang adanya kabar bahwa di negeri ini akan ada toko yang menjual kumpulan daun lontar, dan karena kumpulan daun lontar itu tidak sesuai dengan kebudayaan barat, dan juga tidak sesuai dengan norma aliran mereka, maka sang pemimpin mengajak agar semua penganutnya menolak dengan tegas penjualan Akernilud, dan mendukung di sahkannya sebuah peraturan yang sedang di godok di Perwakilan Dewan Rakyat, peraturan itu rencananya akan mengatur tentang bagaimana cara berpakaian seluruh rakyat, dan karena seluruh anggota PDR adalah penganut aliran “Madhep Wetan” maka peraturan tersebut mengacu kepada hukum aliran mereka dan tidak mempertimbangkan perbedaan yang ada di negeri itu, karena ada sebuah daerah di negeri itu yang dihuni oleh sebuah suku yang cara berpakaian mereka sangat berbeda dengan aliran “Madhep Wetan”, yaitu seluruh badan tertutup kain dan hanya tangan, kaki dan kepala mereka saja yang tidak tertutup oleh pakaian, dan di daerah ini para wanitanya terkenal cantik-cantik, kita kembali pada PDR, peraturan itu rencanaya akan di sah kan 3 bulan lagi, tetapi karena desakan beberapa pimpinan penganut aliran “Madhep Wetan” yang di koordinatori oleh Mora Maira, anggota PDR mempercepat proses pembuatan aturan tersebut dan pengesahan diajukan menjadi 2 bulan mendatang, padahal semua substansi dan tata cara pelaksanaanya belum menemui titik terang, tetapi para anggota PDR ketika ditanya pasti berkata, “ah...nanti kan bisa sambil dijalanken daripada itu peraturan kan bisa daripada kita benahi daripada sedikit-sedikit,yang penting kita kan menampung daripada aspirasi daripada rakyat”, yah itulah komentar dari anggota PDR, mari kita kembali ke alun-alun, suasana siang itu sangat panas, massa dari aliran MW sudah terlihat sangat bersemangat untuk segera menghancurkan toko yang merek anggap tidak bermoral tersebut, usut punya usut, ternyata mereka mendapat dukungan dari Perdana Menteri Jakal Kupus, mereka memutuskan untuk menyerang toko tersebut karena hari itu adalah hari dimana toko tersebut memulai penjualan Akernilud dan mereka semua tampaknya ingin menghancurkan toko itu dan merampas semua Akernilud yang akan dijual, tepat pada pukul 12.00 siang mereka bergerak ke arah toko yang menjual Akernilud dan ternyata para prajurit kerajaan sudah berjaga di depan pintu gerbang toko yang menjual Akernilud tersebut, para anggota MW mulai berteriak-teriak seperti orang kesetanan, dan mereka mulai melakukan tindakan-tindakan anarkis, melempari toko tersebut dengan batu, kayu dan barang barang yang ada di sekitar situ, dan bahkan mereka mulai berani melempari prajurit kerajaan dengan maksud agar mereka menyingkir, tetapi karena prajurit kerajaan sudah menggunakan anyaman bambu untuk melindungi mereka maka para anggota MW tidak ada yang berhasil melukai prajurit, kejadian itu berlangsung cukup lama dan tampaknya para prajurit hanya berjaga saja, tidak berani membalas perlakuan anggota MW (apakah ini perintah atasan mereka yang notabene anggota MW? Saya tidak tahu, saya hanya pencerita, dan tidak bermaksud menyelidiki) setelah berlangsung kira-kira 2 jam, prajurit kerajaan mulai kewalahan dan akhirnya para demonstran mulai merangsek masuk ke halaman toko, mereka berhasil menjebol pagar yang dibuat dan tumpukan batu, di depan sendiri sang pemimpin Mora Riama berteriak-teriak agar toko pimpinan toko tersebut keluar, dan karena tidak ada jawaban dari toko tersebut, Mora Riama memasuki toko tersebut dengan beberapa anggota yang menjadi bodyguardnya, setelah mengacak-acak toko dia akhirnya mendapatkan Akernilud edisi perdana, tetapi karena sistem penjualan barang tersebut mengggunakan sistem LuarJaring sebuah sistem penjualan terbaru pada saat itu, dan terbukti sangat ampuh, sehari sebelumnya Akernilud edisi perdana telah habis terjual maka yang tersisa di toko adalah Akernilud pesanan pejabat-pejabat kerajaan, yang rencananya akan diantarkan kalau hari sudah malam, karena para pejabat tidak ingin diketahui oleh rakyat bahwa mereka juga senang akan gambar wanita-wanita cantik, padahal mereka adalah penganut MW, kita kembali lagi ke Mora Riama, dia mengambil satu tumpukan dan membuka isinya, dahinya berkerut, agak bingung dan di wajahnya tampak kekecewaan yang mendalam, seperti seorang anak sd yang gagal dalam lomba gambar. Dengan nada yang pelan dan dengan nafas yang berat serta wajah yang kecewa, Mora Riama berkata kepada para bodyguardnya, “Ternyata tidak ada gambar wanita bugilnya.....” lalu mimik mukanya berubah menjadi marah dan sambil menenteng Akernilud edisi perdana dia keluar dan berteriak kepada para anggota MW, “Para sahabatku sekalian, ternyata di dalam Akernilud ini tidak ada gambar wanita bugilnya, hanya artikel saja, misi kita untuk mendapatkan Akernilud gratis dengan harapan akan melihat gambar wanita bugil telah gagal, mari kita bakar saja toko ini, sangat mengecewakan!!!!!”, ternyata itulah yang menjadi misi utama kelompok MW ini, dan seorang bapak-bapak yang sedang melihat keramaian ini menyeletuk, “ walah, gemblung, arep ndelok gambar ngono wae ndadak mengatasnamakan kebudayaan barat, lan hukum aliran, mbok ya pesen wae langsung opo piye, ora usah isin nek ancene pengen ndelok, opo koyo aku, lengganan sing edisi asline, pancen goblok tenan arek-arek kae” sambil menaiki sepedanya dan menggenjotnya, orang tua tersebut berteriak, “Munafik tenan!! Kelakuan dho sok suci!!Bubar wae, mbalik nyang ndeso dadi buruh tani kono!!!”

0 Comments:
Post a Comment
<< Home